Senin, 22 September 2014

BUDAYA SEBAGAI ALAT PENGHANCUR ISLAM Oleh : Fikri Ramadhan




Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka” (QS. Al-baqarah :120)
            Dari  potongan ayat  diatas, dapat diketahui  bahwa orang-orang Yahudi dan nasrani akan selalu berusaha membuat umat islam untuk keluar dari agamanya, kapanpun dan dimanapun umat islam berada mereka tidak akan berhenti menjerumuskannya ke jurang kesesatan, mereka melakukan ini karena mereka tidak mampu menaklukan umat islam secara fisik, mereka sadar jika umat islam berpegang teguh pada agamanya dan komitmen terhadap agama itu kuat, maka mereka orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan mampu berbuat apa-apa, dan mereka pun mengetahui yang harus mereka lakukan sebetulnya adalah menjauhkan umat islam dari agamanya, barulah mereka mudah mengalahkan umat islam. 
           Dari hal tersebut kita mengetahui adanya ghazwul fikri yang orang-orang kafir luncurkan untuk menghancurkan umat islam,  Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan "Perang Pemikiran". Yang dimaksud ialah upaya-upaya dari pihak musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala untuk meracuni pikiran umat Islam agar umat Islam jauh dari Islam, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini. Tetapi perang pemikiran ini berbeda dengan perang militer atau fisik. Ia lebih soft, hemat waktu dan biaya bahkan lebih efektif dari perang fisik yang banyak menguras tenaga juga biaya yang tidak sedikit. menurut prof.Dr.Abdul Rahman H.Habanakah  ghazwul fikri bagaikan “binatang-binatang kecil (ulat atau serangga lainnya) memasuki buah, pohon-pohonan dan melubanginya, saya merasa memperoleh pelajaran darinya, bagaimana musuh-musuh islam bekerja untuk merusak dan mengahancurkan islam . mereka berusaha mengosongkan kandungan islam baik yang berkenaan dengan aqidah, amaliyah, maupun akhlaknya, hingga tinggal kulitnya yang hampa tak berisi, kemudian divonisnya sebagai sesuatu yang layak dibuang ke keranjang sampah. Begitulah mereka bekerja dan melakukan tipu dayanya untuk merusak islam”
Dalam rangka menjalankan langkah-langkah dan strategi mereka, mereka telah melancarkan strategi jitu dengan sasaran “4S” (Sing, Sex, Sport, Smoke) juga dengan sasaran “5F” (Film, Fun, Fashion, Food, Faith) Ternyata sasaran tersebut dianggap paling efektif oleh musuh-musuh Islam, karena itu tidak heran jika umat Islam banyak yang tidak mempelajari Islam secara benar bahkan dengan jujur kita akui banyak di temui budaya-budaya yang sudah tidak Islami yang terkait dengan  4S dan 5F
SING : Musik-musik yang mempertunjukkan budaya dan lirik orang kafir dengan berbagai instrumennya.seperti halnya band-band rock dengan budaya kekerasan dan mabuk-mabukan, lirik lagu tentang percintaan yang menghinoptis orang-orang yang pacaran, bahkan lirik lagu yg memang jelas merusak aqidah.
SEX : Banyaknya media yang menyajikan gambar dan tayangan yang mengandung unsur pornografi seperti lewat film atau video, dan juga sex perzinahan sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan remaja muslim
SPORT : Sangat banyak even olahraga yang tidak mencerminkan kultur Islam (membuka aurat) serta digelar tanpa memperhatikan waktu sholat,jika diperhatikan di jaman sekarang ini sangat sulit menemukan acara olahraga yang dimana para atletnya menutup aurat, karena mereka berpikir bahwa memakai pakaian yang  menutup aurat hanya akan menghambat pergerakan dalam berolahraga begitu juga dalam
SMOKE : Rokok yang sudah umum dikalangan tua maupun muda, awam maupun intelektual bahkan kebanyakan kaum muslimin adalah pecandu rokok yang hukumnya menurut jumhur ‘ulama adalah makruh, artinya sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Bahkan menurut sebagian ulama adalah haram. Padahal orang-orang yahudi yang banyak memproduksi rokok pun hanya sedikit yang mengkonsumsinya, hanya beberapa persen saja dari mereka, itu karena mereka mengetahui betapa bahayanya rokok terhadap tubuh mereka, jadi bagi mereka rokok konsumsi sehari-hari, tetapi rokok hanyalah sebuah bisnis yang dimana mereka merauk keuntungan dari pabrik-pabrik dan perusahaan yang mereka buat di Negara-negara muslim,
FILM : Para produsen film Hollywood yang mayoritas yahudi terus menerus mempropagandakan liberalisasi, umbar aurat wanita dan sex bebas sampai maksiat, tatto dan body piercing, rokok dan minuman keras, syirik maupun paham-paham yang menyerang Islam. Dan logika ini dipakai orientalis, liberalis lokal dengan memasarkan film sejenis dengan menggunakan talent artis muslim dan non-muslim dalam kondisi yang semakin mendangkalkan iman dan moral bangsa. Menurut penelitian disertasi Jack Shaheen, yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Reel Bad Arabsmengatakan bahwa Hollywood telah memproduksi lebih dari 900 judul film sejak tahun 1896 hingga sekarang yang mayoritas mendistorsi gambaran tentang bangsa Arab. Dalam film-film itu digambarkan bahwa orang-orang Arab adalah orang yang suka main perempuan, kaya tapi bodoh, sadis dan pemarah, teroris, fundamentalis, dan masih banyak lagi gambaran negatif lainnya. Beberapa komentar yang dikutip dari buku tersebut sebagai berikut:
“Mereka (Arab) semua terlihat sama bagi saya,” kata pemeran pahlawan Amerika dalam film The Sheik Step Out (1937).
“Semua orang Arab terlihat sama bagi saya,” kata seorang pemeran tokoh protagonis pada film Command (1968).
Hingga puluhan tahun berlalu tetap saja tidak ada perubahan tentang bagaimana orang-orang Arab digambarkan di Barat. Seorang Duta Besar AS ‘bergurau’ dalam film Hostage (1986), “Saya tidak bisa membedakan antara orang Arab yang satu dengan lainnya. Semua terbungkus dalam lembaran mereka. Semua terlihat sama bagi saya”. Maksudnya, dalam film-film Hollywood itu mereka melihat bahwa bangsa Arab semuanya dianggap sama: buruk.
FREEDOM & FUN : Lawakan, tontonan -tontonan yang lucu yang sering kita jumpai dalam tayangan televisi yang hal tersebut sangat di benci Rasulullah.
FASHION : Busana, terutama dikalangan generasi muda yang kebanyakan sudah berkiblat pada trend-trend orang kafir yang selalu mengumbar aurat dan menimbulkan syahwat.
FOOD : Makanan, berbagai makanan jadi dan cepat saji yang diproduksi oleh pabrik yang belum jelas kesucian dan kehalalannya.
FAITH : Kepercayaan, yang dimaksud adalah faham-faham yang dikembangkan oleh orang-orang kafir seperti Liberalisme, Komunisme, Orientalisme, Zionisme, Kapitalisme dan lain sebagainya.
Kita sebagai umat harus selalu waspada. Perkuat barisan dan ukhuwah, terus tambah keilmuan kita untuk menangkal dan melawan perang pemikiran yang dilancarkan musuh-musuh Islam.
Mudah-mudahan Allah memberi kita kemampuan untuk menyeleksi setiap budaya yang kita kenali dan kita temui agar kita tida termasuk orang-orang yang terkena ghazwul fikri. Dan yang tak kalah penting, semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan hati kita cinta terhadap Islam dan selalu menda'wahkan dan memperjuangkannya, sampai akhirnya Dia memanggil kita ke sisi-Nya selama-lamanya. Amin ya Rabbal ’alaimin






Senin, 06 Januari 2014

Mahfudzat Hari Ini



1.              مَنْ سَارَ عَلىَ الدَّرْبِ وَصَلَ

1. Siapa berjalan pada jalannya sampai.


Masa depan agama



Dunia yang damai merupakan tujuan luhur manusia yang diajarkan dalam agama manapun. Agama mana yang mengajarkan untuk melakukan pembantaian, dan menumpahkan darah orang-orang yang berbeda agama? Saya yakin tidak ada agama yang sekejam itu. Buddha mengajarkan kesederhanaan, Kristen mengajarkan cinta kasih, Konfusianisme mengajarkan kebijaksanaan, dan Islam mengajarkan kasih sayang bagi seluruh alam.
Bila tujuan luhur manusia dan semua agama sangat ingin menghendaki perdamaian dan memiliki komitmen kuat terhadap anti-kekerasan, lalu mengapa kekerasan agama itu kerap terjadi dengan korban yang tidak terhitung jumlahnya? Agama yang yang seyogyanya mengajarkan kesejukan, kedamaian, kesentosaan, kasih sayang dan nilai-nilai ideal lainnya, saat ini sudah berevolusi dalam wajah yang keras, garang dan menakutkan. Agama  juga kerap dihubungkan dengan radikalisme, ekstrimisme, bahkan terorisme. Agama pun dikaitkan dengan bom bunuh diri, pembantaian, penghancuran gedung, dan lain-lain yang menunjukkan wajah baru agama masa kini.
Jalaludin Rakhmat dalam bukunya yang berjudul Psikologi Agama mengatakan agama acapkali dapat dilihat dalam realita yang saling bertentangan. Agama bisa memotivasi pengabdian tanpa batas, tetapi ia pula dapat memotivasi tindak kekerasan tanpa belas kasihan. Agama pun bisa mengilhami pencarian ilmu, namun ia pula dapat menyuburkan takhayul. Agama jualah yang dapat memekikkan perang paling keji, dan pada saat yang bersamaan dapat menebarkan kedamaian (2003).   
Agama: Pemicu Konflik Dalam Peradaban
Peran agama sebagai perekat heterogenitas dan pereda konflik sudah sepatutnya dipertanyakan. Milyaran manusia yang menghuni muka bumi ini begitu heterogen dalam pelbagai suku, etnis, ras, agama, kultur, peradaban dan sebagainya. Namun sayangnya, perbedaan-perbedaan tersebut seringkali berakhir dengan konflik. Dan konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus paling berbahaya bukanlah konflik antarkelas sosial, atau antar golongan kaya dengan golongan miskin, ataupun juga antara kelompok-kelompok ekonomi lainnya; melainkan konflik antara orang-orang yang memiliki entitas-entitas budaya yang berbeda-beda. Namun, selama berabad-abad, perbedaan entitas agama justru telah menimbulkan konflik yang paling keras, paling lama, paling luas, dan paling banyak memakan korban. Dalam citranya yang negatif, agama telah memberikan kontribusi terhadap terjadinya konflik, penindasan dan kekerasan. Agama telah menjadi tirani, di mana atas nama Tuhan orang melakukan kekerasan, menindas, melakukan ketidakadilan dan pembunuhan.
Dalam konteks kekinian, bentuk-bentuk konflik, kekerasan dan perang agama itu acapkali dihubungkan dengan bangkitnya fundamentalisme agama. Fundamentalisme agama mengekspresikan cita-cita sosial-politiknya dalam bentuk ekstrimisme dan kekerasan sebagai reaksi terhadap kondisi kehidupan manusia yang dianggapnya tidak ideal. Fundamentalisme, sebagaimana dikatakan Karen Armstrong, merupakan salah satu fenomena paling mengejutkan di akhir abad 20. Ekspresi fundamentalisme ini terkadang cukup mengerikan. Para fundamentalis menembaki jamaah yang sedang salat di masjid, membunuh dokter dan perawat dalam klinik aborsi, membunuh presiden, dan bahkan mampu menggulingkan pemerintahan yang kuat. Peristiwa  yang pernah membuat dunia rusuh, yaitu hancurnya gedung World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat, September 2001 lalu, juga dihubungkan dengan gerakan fundamentalisme.
Ciri-ciri umum yang dapat memberi beberapa penjelasan tentang makna fundamentalisme adalah sebagai berikut:
  • Mereka meyakini agama (ajaran, dogma, dan kitab sucinya) adalah yang paling benar.
  •  Mereka meyakini agama mereka saja yang dapat menyelesaikan pelbagai permasalahan dunia.
  • Mereka menentang penafsiran, pendekatan, dan kritik yang dilancarkan oleh arus modern kepada agama mereka.
  • Mereka menekankan pentingnya untuk menjadi penganut agama yang sejati dengan pengamalan doktrin yang paling murni.
  • Mereka memimpikan terciptanya masyarakat ideal yang dibangun berdasarkan ajaran agama mereka.
  • Mereka adalah orang-orang yang dangkal dan superfisial, anti intelektual, dan pemikirannya sebenarnya tidak bersumberkan Kitab Suci dan budaya intelektual tradisional agama mereka.
Memformat Ulang Agama—Jalan Untuk Dunia Yang Lebih Baik
Sebuah mobil yang memiliki kerusakan pada mesinnya, seyogyanya dibawa ke bengkel dan diperbaiki sehingga kerusakannya tidak bertambah parah. Demikian pula halnya jika tujuan luhur dari agama ternyata tidak sejalan dengan praktek kehidupan umat, maka pastilah ada yang salah pada agama. Oleh karena itu ia harus segera diperbaiki, karena jika tidak segera diperbaiki, maka agama akan menjadi monumen usang yang disfungsional. Dalam hemat penulis, setidaknya ada dua pilihan yang bisa diterapkan pada agama terkait dengan kerusakan padanya.
Pilihan pertama, membunuh agama. Jika sebuah barang sudah tidak bermanfaat, disfungsional, dan justru membebani si pemilik barang tersebut, lebih baik barang tersebut dibuang. Demikian pula jika agama tidak bisa lagi mendatangkan perdamaian, mewujudkan dunia yang lebih baik, dan membebaskan manusia dari dominasi dan pengaruh keduniawian yang menyebabkan tumpulnya kesadaran transendental manusia, maka lebih baik agama disingkirkan saja dari kehidupan individu dan sosial.
Sigmund Freud sudah pernah menyampaikan pemikiran untuk menyingkirkan agama dari kehidupan manusia. Ia mengatakan mengatakan bahwa agama itu tidak lebih dari sekadar obsesi neurotis manusia yang tidak ubahnya seperti seorang anak-anak yang memiliki kerinduan kepada bapak yang mengayomi dan melindungi. Kerinduan ini akhirnya diproyeksikan kepada suatu citra khayalan yang manusia sebut Tuhan. Karena itu menurut Freud agama adalah ilusi yang berbahaya baik bagi individu maupun masyarakat. Hanya dengan meninggalkan agama dan ajarannya yang dogmatis dan bertumpu pada sains dan akal, individu dan masyarakat akan berkembang melewati tahap kekanak-kanakannya.
Sudah barang tentu, pilihan ini akan menuai protes keras dari kalangan rohaniwan yang khususnya telah mendapat manfaat ekonomi dari agama formal yang ada. Alasan selanjutnya jika agama formal yang ada saat ini dibunuh, diruntuhkan, diberangus—apapun istilahnya—maka barang tentu sudah harus tersedia bagi manusia substite’s religion sebagai pengganti agama formal yang ada. Yang menjadi masalah, agama sampai sekarang masih merupakan komoditi yang kuat yang bisa memberikan kelegaan batiniah bagi manusia. Selain itu sains yang menurut Freud bisa menggantikan agama ilusi ataupun agama formal yang ada, belumlah cukup kuat untuk menyangga peradaban.
Bagaimana dengan pilihan kedua? Pilihan kedua adalah menata ulang agama formal yang ada sekarang. Pilihan ini lebih masuk akal dan masih bisa memuaskan pelbagai pihak yang berkepentingan. Mengapa? Karena dalammemformat ulang agama, yang utama harus dilakukan adalah pembenahan dogma-dogma yang ofensif, atau doktrin-dokrin yang berpotensi menyebabkan suatu umat beragama merasa lebih superior dibandingkan dengan umat beragama yang lain. Seperti istilah bangsa pilihan atau umat kepunyaan Tuhan, adalah sedikit contoh dari istilah keagamaan yang harus ditata ulang karena ternyata istilah tersebut berpotensi menimbulkan pelbagai konflik dan keretakan sosial. Dan jangan dilupakan juga istilah penginjilan ataupun dakwah merupakan kegiatan yang rentan menimbulkan friksi dalam hubungan sosial masyarakat. Karena sering kali tanpa disadari mandat penginjilan atau dakwah itu disusupi dengan semangat penaklukan yang biasa ada dalam mentalitas penjajah yang selalu ingin menaklukan negeri yang dijajahnya.
Yang terutama harus disadari oleh semua umat beragama untuk terwujudnya dunia yang penuh dengan kedamaian dan tanpa kekerasan, haruslah diciptakan sebuah format keberagamaan masa depan yang lebih mengedepankan sikap menghargai persamaan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tiap-tiap agama. Karenanya tidak satu orang pun yang pantas dan merasa berhak mengatakan bahwa agamanya lebih baik dari agama yang lain. Sejatinya, agama adalah relatif. Ia terbatas, parsial, dan tidak lengkap. Agama itu dapat diibaratkan seperti sebuah puzzle yang di saat terpisah-pisah tidak memiliki nilai estetika sama sekali. Tetapi ketika kepingan-kepingan puzzle itu disatukan, maka ia baru dapat membentuk sebuah gambar yang indah. Doktrin-doktrin yang terdapat dalam agama-agama formal yang ada sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri. Ketika doktrin itu berdiri sendiri, terpisah dari yang lain, maka doktrin itu tidak dapat memberikan pencitraan yang lengkap tentang Tuhan, tentang manusia, dan tentang ciptaan-Nya.
Agama juga tidak ubahnya seperti sebuah cermin kecil yang tidak cukup jika digunakan oleh seseorang untuk melihat seluruh tubuhnya. Bukankah untuk melihat seluruh tubuh, seseorang harus melihatnya melalui sebuah cermin yang besar? Bahkan untuk melihat benda-benda mikroskopis, dibutuhkan sebuah mikroskop dengan pembesaran yang bisa diatur-atur.
Dengan demikian jika manusia ingin memahami Tuhan secara utuh, ia harus melihatNya dengan menggunakan pelbagai sudut pandang agama. Sebagai contoh dalam konteks kekristenan, untuk melihat Tuhan yang penuh kasih sayang, maka seseorang dapat melihatnya di dalam pribadi Kristus. Tetapi jika manusia ingin melihat sosok Tuhan yang murka terhadap dosa manusia, maka ia bisa berkaca kepada Tuhan di dalam Judaisme yang tidak segan-segan memerintahkan umat-Nya untuk membunuh orang-orang yang hidup dalam penyembahan berhala. Oleh karena itu menganggap suatu agama dengan pelbagai doktrinnya secara intrinsik lebih baik dari yang lain, merupakan sebuah sikap yang salah, ofensif, dan merupakan pandangan yang sempit.
Jadi apa yang harus dilakukan oleh umat agama untuk mewujudkan dunia yang lebih tenang untuk dihuni? Ini bisa terjadi jika saja umat beragama tidak sibuk saling beradu kontes kecantikan doktrin-doktrin yang mereka miliki. Dunia akan menjadi dunia yang damai ketika doktrin dan pelbagai polemik yang ditimbulkannya dikesampingkan terlebih dahulu. Alih-alih beradu argumentasi mengenai agama yang diridhoi Tuhan dan agama yang tidak diridhoi, bukankah lebih baik jika umat beragama duduk bersama dan menitikberatkan konsentrasi mereka pada penyelesaian permasalahan-permasalahan lingkungan hidup, etika sosial, dan masa depan kemanusiaan. Tidak ada satu agama pun yang tidak mengajarkan umatnya untuk saling bertolong-tolongan. Ketika agama menjadi dasar pijakan bagi para umat beragama untuk bergandengan tangan menyelesaikan krisis lingkungan hidup, mengentaskan kemiskinan, memerangi kebodohan, dan pelbagai penyakit-penyakit sosial lainnya, maka dunia yang damai dan tanpa kekerasan bukan lagi impian di siang bolong.
Dunia Baru Dengan Agama Baru
Sudah terbukti agama memiliki andil dalam pelbagai konflik di planet bumi yang sudah semakin uzur ini. Dari perang salib, perang saudara Serbia-Bosnia, sampai konflik di Ambon. Puluhan juta jiwa telah terbunuh sia-sia. Anak-anak yang seharusnya dipelihara agar menjadi harta masa depan, tewas dibunuh dengan sadis hanya karena perbedaan agama, dan ketidaksetujuan atas sebuah doktrin. Perempuan yang diciptakan untuk menjadi penolong seorang pria dan seharusnya dilindungi, diperkosa dengan sadis oleh pria-pria brengsek yang mengaku kaum beragama. Atas nama Tuhan seseorang bisa mencabut nyawa seseorang.
Inikah dunia dan peradaban yang benar? Dunia yang katanya dihuni oleh manusia-manusia agamis, justru berubah menjadi medan peperangan yang mengerikan. Peradaban yang katanya sudah beradab, tetapi atas nama agama sanggup melakukan tindakan yang biadab.
Bagaimana jalan keluar dari semua permasalahan ini? Biarkan agama tetap menjadi agama yang personal. Halangi usaha agama yang berusaha menyeruak masuk dalam ruang publik. Format ulang doktrin-doktrin yang berpotensi menimbulkan ketegangan dalam interaksi sosial. Dan pusatkan energi untuk mengatasi masalah-masalah kemanusiaan.
Inilah agama masa depan. Agama yang tidak sibuk mengurusi kepercayaan orang lain. Agama dengan doktrin-doktrin yang mengedepankan semangat persaudaraan tanpa mencerca perbedaan yang dimiliki oleh agama lainnya. Dan agama yang duduk bersama guna memikirkan solusi yang efektif bagi penyelesaian masalah-masalah kemanusiaan.
(Tulisan ini ditulis oleh saya pada tahun 2005 sebagai bentuk kegelisahan penulis dalam mencermati dinamika kehidupan umat beragama di era perang teroris secara global dan kerusuhan antar umat beragama di Indonesia satu dasawarsa yang lalu. Semoga tulisan ini masih bisa memberi manfaat).

Selasa, 31 Desember 2013

Puitisasi Al-Qur'an

Menu kasih diujung abad Rambiya.. Rambiya.. Menu-menu kasih di ujung tulus abad ini. Rambiya,. Tuhan mengutuk kasih yang siap santap malam ini,. Merubah cinta yang dihidangkan nanti malam,. Dengan ijrad yang dulu kau sediakan,. Sayang,. Adam awam yang mencerna tak tau gizi nya,. Hanya indah di dalam mangkuknya tak memikirkan cacing pita di dalamnya,. Tak peduli hilangnya vitamin di dalamnya,. Hanya lapar sebuah kasih dan panganan sebuah cinta,. Manusia akan bergerilya malam ini,. Merebutkan sepiring kasih dan semangkuk cinta Dicki Triana S. SM 18:47, Sel 31 12 2013

Kamis, 05 Desember 2013

Essay 1


Nasionalisme, Patriotisme, dan Muslimisme
(Dalam meratapi zaman, semangat pemuda beragama dan bangsa)
Oleh Ahmadillah Fikran Mahissa 4F Smi Al-muhajirin
      Peradaban zaman yang telah berkembang menyebabkan pendapat yang salah pemahaman dalam sebuah permasalahan menjadi salah satu penyebab terjadinya Pengkiprahan yang salah dalam kehidupan.
            “Nasionalisme” adalah paham kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta tanah air. Menurut ensiklopedia Indonesia “nasionalisme diartikan sebagai sikap politik dan sosial dari kelompok-kelompok suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, bahasa, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan.
Pengkiprahan “nasionalisme” dalam kehidupan zaman sekarang telah terhapuskan oleh pemuda yang jauh dari kebenaran. Penindasan, tawuran, dan perilaku yang menyinggung norma menjadi pengacu penghilang rasa “nasionalisme” dan menghilangkan rasa kebersamaan untuk cinta tanah air. Sebagai pemuda beragama dan bangsa seharusnya mempersiapkan diri untuk membangun bangsa. Bagaimana caranya pemuda tersebut membangun semangat “nasiomalisme”?.
      Sikap kepahlawanan, gagah berani, pantang menyerah, rela berkorban demi bangsa dan negara adalah makna “patriotisme”. Pemuda bangsa telah jauh dari sikap patriotisme, yang terjadi hanyalah perselisihan, pertikaian yang menyebabkan permusuhan.
            Islam adalah agama yang mudah dan indah “nasionalisme dan  patriotisme” berkenaan dengan pemahaman jihad dalam agama islam. Zaman berkembang merubah keadaan. Rasulullah SAW membawa cahaya penerang dari zaman kegelapan. Apakah zaman ini akan kembali di dalam kegelapan?. Bagaimana untuk jihad di zaman sekarang?
   Jihad adalah perjuangan untuk membela agama yang dimana pada zaman Rasul seorang muslim bangga akan kemuslimannya. Jihad zaman sekarang bukanlah berjihad peperangan tapi bagaimana kita bias berjihad untuk melawan hawa nafsu. Itulah sebagai salah satu cara menumbuhkan semangat dan menjadikan kebanggaan seorang muslim.
   “Nasionalisme, patriotisme, dan muslimisme” adalah ikatan pemahaman yang perlu ditumbuhkan dan direalisasikan  pemuda beragama dan bangsa dalam kehidupan. Tidak hanya mengetahui arti pemahaman tersebut, tetapi pemuda bangsa harus memahaminya dan menanamkan pemahaman itu dalam diri. Hilangnya nasionalisme. patriotisme, serta pemahaman seorang muslim menyebabkan hilangnya kesatuan, persatuan,dan kebanggaan menjadi muslim. Serta menyebabkan robohnya suatu bangsa dan agama.
            “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengetahui keadaan rakyatnya dan agama yang tegak adalah agama yang memiliki pemuda yang bangga menjadi penganut agama tersebut”. 


Selasa, 06 Agustus 2013

"AYO" Stardji Calzoum Bachri


Adakah yang lebih tobat
dibanding air mata
adakah yang lebih mengucap
dibanding airmata
adakah yang lebih nyata
adakah yang lebih hakekat
dibanding airmata
adakah yang lebih lembut
adakah yang lebih dahsyat
dibanding airmata
para pemuda yang
melimpah di jalan jalan
itulah airmata
samudera puluhan tahun derita
yang dierami ayahbunda mereka
dan diemban ratusan juta
mulut luka yang terpaksa
mengatup diam
kini airmata
lantang menderam
meski muka kalian
takkan dapat selamat
di hadapan arwah sejarah
ayo
masih ada sedikit saat
untuk membasuh
pada dalam dan luas
airmata ini
ayo
jangan bandel
jangan nekat pada hakekat
jangan kalian simbahkan
gas airmata pada lautan airmata
malah tambah merebak
jangan letupkan peluru
logam akan menangis
dan tenggelam
dikedalaman airmata
jangan gunakan pentungan
mana ada hikmah
mampat
karena pentungan
para muda yang raib nyawa
karena tembakan
yang pecah kepala
sebab pentungan
memang tak lagi mungkin
jadi sarjana atau apa saia
namun
mereka telah
nyempurnakan
bakat gemilang
sebagai airmata
yang kini dan kelak
selalu dibilang
bagi perjalanan bangsa
OASE: Sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri